Demi Segera Terwujudnya Perdamaian, China Menawarkan Diri Jadi Tuan Rumah Perundingan Damai Palestina-Israel

China mengatakan pihaknya ingin menjadi tuan rumah perundingan damai antara Palestina dan Israel, ketika PBB memperingatkan letusan kekerasan di wilayah tersebut bisa memicu krisis yang tidak tertahankan.

Selama pertemuan virtual 15 anggota Dewan Keamanan PBB pada Minggu, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi kembali menyerukan gencata senjata segera antara kedua belah pihak dan meminta Israel mencabut blokade dan kepungannya di Gaza segera mungkin.

Dia juga mendesak AS berhenti "menghalangi" Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan dalam konflik tersebut, dan mendukung upaya dewan untuk menurunkan ketegangan dan menemukan resolusi politik. China bertindak selaku ketua bergilir Dewan Keamanan PBB sejak awal Mei.

"Kita akan terus meningkatkan upaya kita untuk mendesak perdamaian dan mendorong perundingan, dan memenuhi tanggung jawab kami sebagai ketua Dewan Keamanan," jelas Wang, dikutip dari South China Morning Message, Senin (17/5).

"Kami menegaskan kembali ajakan kami kepada pembawa damai dari Palestina dan Israel untuk datang ke China untuk membuka dialog, dan kami menyambut negosiator dari kedua belah pihak untuk terlibat perundingan langsung di China," lanjutnya.

Wang mengatakan perundingan harus membahas kembali solusi dua negara yang akan mencakup pendirian negara Palestina merdeka, berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, yang akan berdampingan dengan negara Israel.

China berperan lebih aktif dalam meredakan ketegangan antara kedua belah pihak, termasuk meminta pembahasan terbuka pertemuan PBB pada Minggu, bersama Norwegia dan Tunisia setelah tiga ketiganya mendorong pertemuan Dewan Keamanan PBB dua putaran sebelumnya digelar tertutup.

Di tengah persaingan mendapatkan pengaruh worldwide, Beijing membandingkan upaya diplomatiknya dengan AS - sekutu dekat Israel - karena menghalangi Dewan Keamanan PBB mengeluarkan pernyataan bersama untuk "penghentian segera permusuhan" antara kedua pihak. China juga berada di bawah tekanan yang lebih besar karena tuduhan penindasannya terhadap Muslim dan etnis minoritas di Xinjiang.

Wakil presiden Asosiasi Studi Timur Tengah China, Li Weijian mengatakan di masa lalu China selalu menyerukan gencatan senjata tapi jarang menyebutkan bagaimana dan siapa yang akan memimpin negosiasi.

"Karena China sekarang memposisikan diri sebagai kekuatan worldwide, ia perlu mengambil tanggung jawab kekuatan utama, jadi dia tidak bisa absen dari isu global yang memanas," jelasnya.

Li mengatakan, negara-negara Arab juga mengungkapkan harapannya China akan memainkan peran lebih besar di wilayah tersebut, karena merasa AS berada di pihak Israel.

Sebelumnya Palestina dan Israel juga diundang untuk menggelar perundingan di China, termasuk dalam lawatan Wang ke Timur Tengah pada Maret, tapi pengamat mengatakan tawaran itu tidak dianggap serius karena Beijing tidak dianggap sebagai aktor penting dalam isu Palestina-Israel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Insiden Penusukan Kembali Terjadi Kembali di Tokyo, Jepang

Jenderal Fattah Al Burhan Membebaskan 4 Menteri Yang Ditahan Dan Akan Segera Siapkan Pemerintahan Baru

Seorang Pria Menikahi Kembali Mantan Istrinya Usai 2 Tahun Bercerai Yang Sakit Parah Untuk Merawatnya